Valentine

February 14th, 2009 by governance

Sabtu 14 Februari 2009,,

Kontrakan Semarang

Bangun pagi, jam 3.30, sholat, ngaji, shubuh,, tidur,, bangun jam 8, terus bangun2 “selamat hari kasih sayang”, kata mas hari. Habis itu sarapan, nengokin rumah, setelah sehari akad kredit (pamer mode on! heleh, wong kreditan, alias utangan kok dipamerke…, utangan elah, luweehhh… ), terus jalan2. Mampir warnet, cuma mau provokasi temen2, kalau habis ini mau ke warung seafood beli kepiting, atau udang: RASA RESTO HARGA KAKI LIMA.

Tambah lagi, Japanese Food, ful seafood di Simpang Lima, yang lagi-lagi: RASA RESTO HARGA KAKI LIMA,,,

Puas2in deeehhhh…

Hayo2, siapa yang mau nyobain kuliner Semarang, penginepan gratis, mangan MBAYAR DEWEWEWEEEE…

Datar atau super excited!

November 10th, 2008 by governance

Jane mben ditakoni uwong piye rasane hamil ki aku ora ngerti lhe jawab. Soale ketoe rasane biasa wae. Ora ana sing special. Uwong2, dho takon soale iki kan hamil sing pertama kali. Dadi wajar nek uwong2 bakal mbayangke aku sing super excited, sueneng, dag dig dug, dll, dll. Nanging kenyataane kok yo ora. Biasa2 wae. Jadi, pernah suatu ketika kancaku si Nova kae chating ro aku, “piye Vit rasane hamil? pasti menyenangkan..”. Yo, tak jawab jujur, “ora je Nov, biasa wae, datar2 wae, ora ana rasane”. Wah, yo, jian nek dirungokne kok yo jawabanku ki kebangeten temen to yo. Koyo ora bersyukur, po sok not care. Tapi yo cen ngono kuwi. Tapi tak pikir2, jane aku iki yo seneng2 wae. Tapi ora iso ngekspresike secara dramatis wae. Dadi kesane datar. Njuk Nova ngomong, “kali mergo durung kroso tenanan Vit. Awakmu kan isih kuru banget”. Tak pikir2 koyone sih iyo. Lha hamil 4 bulan tapi aku isih junkies banget. Ora ketoro. Tapi keajaiban ki tak rasakne mau bengi. Aku perikso ng bidan. Selawase urip, aku ki periksane ng Bu Merry, Panti Rapih. Tapi, gandheng wulan iki aku ora sempet ng Panti Rapih Yogya, aku ming periksa ng bidan tangga kontrakan. Biasane nek ng Bu Merry kae discan dadi aku ngerti janinku wis pirang senti. Tur yo, ng mesin scan kae aku ming ndelok gambar janin sing bunder mlungker ngono kae. Tapi, pas mau bengi ng bidan ki, saking ora duwe USG, aku ming ditempeli akat deteksi jantung. Eh, ladalah… barang alate ditempel ng perutku, lha kok ana susra “hup, dug, hup, dug…”. jare bu bidan, ini detak jantung bayinya Mbak. Weee lha. Elok tenan! Wekekekek. Lha yo, alate sing ming apa anane malah iso gawe aku rodo iso ngerasakne mengandung, tapi sing modern rasane malah ming lewat wae.Aku mesam-mesem dewe. Soale rasane lutju, hi3x. Jian. Ternyata, aku yo iso wetenge ana isine calon manungsa. Alhamdulillah.

Ha.. yo, balik ko bidan njuk Bapakne cah2 ming tak iming2 suara detak jantung. Wah, penasaran banget de’ene. Maklum, bengi kuwi ora iso nganterke. Maklum, lagi mergawe, lungo adoh. Nek krungu lak yo mesti bapakne cah2 seneng banget. Yo to Pak! Iki lho, anakmu wis kuangen.

Wis, nyuwun doane sedherek2 mawon, mugo2 aku lan calon manungsa ng wetengku diparingi sehat, selamet, sholeh. Amin3x, ya robbal ‘alamin.

I dont want to hear anything about you

July 10th, 2008 by governance

Exhausted? Not really. I just feel it is meaningless to take into account everything you said. Kind of trying to absorp any attention of me, but you fail. It’s pointless. You try to make everything as if it is a mysterious stuff but it is a bullshit. You waste time if you wish I’ll be curoius of everything you do, your story, your problems, your anything shitt!. Take your time baby with everything you are exaggerating. I do not and will not care! I’ll enjoy my life with my lovely lovely lovely time… Dasarrrr!!!

Not just a matter of “in order to look”

June 23rd, 2008 by governance

Not just a matter of "in order to look". Serangkaian kata ini kupilih untuk mengekspresikan rasa syukur atas sekian alur hidup yg telah dan sedang kujalani ini, dan terasa terlalu asik. Rasa syukur pertama, aku hidup dengan orang tua yg sangat terbuka, sangat ingin anak2nya mengenyam pendidikan, yg tidak pernah marah2 untuk hal2 yg tidak perlu, rasional, penuh kasih sayang - tapi juga bukan tipe pemanja yg jadi bikin ketergantungan, dan dekat secara emosional. Bukan tipe yg materialis. Yg mengerti ttg substansi mendidik anak2nya. Kedua, aku bersyukur punya kakak2 yg baik. Mereka semua cowok, dan melek gender. Kakak2 yg sangat menyayangi adiknya, ya diriku ini.

Syukur berikutnya, adalah, ketika Tuhan dengan segala kemurahannya ngelancarin perjalanan sekolahku. Hmm, meski penuh liku, dan pasti tidak lepas dari berbagai rintangan, sekolahku selesai dengan baik. Dan lancar. Subhanallah.

Syukur berikutnya, adalah pekerjaan. Ya, meski bukan tipe pekerjaan top manager, executive, top university, top, top dan top yg lainnya, aku bersyukur banget kerja di tempat itu. Satu kata kunci: independensi! Tempat kerjaku berikan banyak kebebasan untukku berkreasi, dan melanjutkan sekolah. Problem, tentu saja ada. Tapi, tidak dalam posisi dipatronase oleh sistem, adalah sesuatu yg paling nglegain hatiku saat ini.

Dan, akhrirnya, tapi bukan yg terakhir, krn masih banyak daftar rasa syukur yg tidak kusebut satu2, syukurku adalah ketika aku dipertemukan oleh Tuhan, seiorang teman hidup yg, Subhanallah, sangat mengerti aku, sangat mendukungku, mature, dan sbgnya, dsb. Mas Hari, I miss you. Juga bersyukur untuk mertua dan saudara2 ipar yg sangat menyayangiku. Hmm… alhamdulillah.

Hmm, gak muna, jika namanya manusia, di perjalanan hidupnya menemui aral melintang. Bisa lewat apapun. Kdg lewat birokrasi, alam semesta, rejeki, atau juga teman. Seperti aku, hidupku pun tak lepas dari byk rintangan. Tapi aku tetap gak pernah berhenti say thank you for God. Jika ada yg sirik, ya gak pa2. Jika ada yg gak suka, ahh, wajar saja. Jika ada yg jahat, hmm… Hidup yg kujalani bukan "biar kelihatannya" aku bahagia, kuat, cantik, pinter, penuh kemewahan, banyak uang, banyak teman, punya popularitas, baik hati, kaya, seksi, care ke temen2, liberal, agnostik, pantang menyerah, paling dibutuhin, paling peduli, banyak proyek, punya cinta sejati, bersahaja, substantif mencintai, berprestasi, dsb, dsb. Hidup yg kujalani, ya seperti ini saja. Apa adanya. Tapi aku suka, dan tidak berhenti bersyukur. Dan bersyukur bukan sekedar untuk sesuatu yg kelihatannya mulus2 saja. Tapi, itu tentang gimana kita melihat hidup dan menjalani hidup kita. Itu saja. I love you Mi, Bah, Mas, dan Suamiku. I love you, God!

Protesmu untuk kata setengah tahun

June 12th, 2008 by governance

Udah setengah tahun man kita merit. Tapi, kamu selalu protes. No, no, kita tidak 6 bulan menikah. Kita baru setengah bulan. Loh? Biar tetep merasa jadi manten baru, argumenmu. He3x. Qualitatively sih, emang, kita tetep aja masih ngerasa jadi manten anyar, grezzz. Bahkan, kalo denger temen2 pada merit gitu, aku juga jadi pengen menikah lagi rasanya. Tentu denganmu, biar tetep grezzz!.

Tapi, gimana2, perhitungan kuantitatif, 6 bulan. Ada yg berubah gak ya? Hmm, fisikal sih, aku berubah, makin gemuk. Apa itu karena bahagia. Orang sih mengkalim begitu. Tapi, belum ada metode riset yg bener2 menguji korelasi kegemukan, lebih tepatnya, kenaikan badanku dengan kebahagiaan paska menikah denganmu. Emotionally, ye, tetep2 aja. Evit yg gini2 aja. Yg masih suka cekikikan, ketawa kenceng, belajar (ceie, yg ini sih bokis biyangett!).

Kalau kamu, apanya yg berubah? Kayanya juga makin tembem. Tapi, menurutmu, kata orang2 kamu makin jadi seperti Bapak2 bener. Ahhh…. Penasaran! Tiap kali telpon, cuma mengira2 posisimu kaya gimana> Tiduran, atau duduk, atau sambil jungkir balik. Loh,,, jayuz!. Tapi, aku seneng, kamu tetep guemuuukkkk, eits, mulai diet ya. He3x.  Moga emang bener makin bahagia.

Anyway, bakul sate, makin hari makin ke sini. Aku mulai ngerasain, justru aku makin menemukan diriku sih (yg mana?). Maksudku, aku kamu sangat membuatku jadi diri sendiri. Tidak berubah memang. Tapi, justru ini impak yg menurutku spesial. Tidak artificial, tidak superficial, tidak disoriented, tidak being hegemonized. Hmm, makin merdeka, makin independen. Thanks untuk enam bulan pernikahan yg membebaskan.

Moga makin baik… Amin

Rumah

June 2nd, 2008 by governance

I really miss my home’s people much. Umi, Mas Acil, Mas Udin, Mbak Nik, dan tentu saja, d’Hanop, alias d’HaNiv, the cutest and only nephew I have. Miss their smile, share days together. Enjoying a never-absent-crowded-and-noisy morning in the shop of stationary. Lovely days of full of love and affection. Passing through all hardship and enjoying moments. Going home soon is what I am waiting for. And, indeed, no need to ask, missing my lovely sweety cutie husband!

Hanimun

May 8th, 2008 by governance

I call him "hanimun", a funny name, and strange! Hanimun use to be used to describe an activity, not as a person’s name. But I enjoy calling him "hanimun". If not, I just call him "hanui", or sometime "hanie". Same as me, he calls me the way I call him. I think, "hanimun" is a nice name, depicting a situation which I always feel with him. Yeah, I call him "hanimun" since every second I go though with him is just like a honeymoon: nearby or far from him. Full of love, sweet smile, warm hugs, lovely kisses, affectionate feelings, enjoyable chats,, mum..mum..mum..mum.. What a great bless of Him delivered to me through you.

Dirimu lebih dari cukup untukku

April 25th, 2008 by governance

Semua mungkin berjalan sangat cepat. Jangankan orang2, kita sendiri pun tidak menduganya. Tentu ini sama sekali tidak berarti tanpa persiapan, sebuah kenekadan, atau gambling hidup yg besar. Begitulah cerita kita berjalan. Kadang kita berpikir, jika waktu berputar, mungkin kita mesti memulainya dari dulu kala. Sehingga kita tidak banyak buang waktu untuk untuk ini, itu, anu. Tapi, babe, tidak ada yg perlu diimajinasikan. It’s all about our story, and indeed our history. Tidak ada cerita karang yg kokoh tanpa terjangan laut. Tidak ada juga cerita pohon yg tiba2 merekah tanpa melewati kemarau dan hujan. Kalau kata Noe, ‘there must be a little rain in our life’.

I know, itu ekspresi kita mensyukuri proses yg amat menyenangkan ini. Mungkin klise, dan bakal ada yg bilang, "kalau lagi happy, daun juga rasa roti". Tapi kita menyimpulkannya bukan tanpa argumen. Kita bukan anak belasan tahun yg sedang menyukai sepeda baru mereka. Kita berjanji membagi suka duka bersama. Menautkan hati dengan rasio dan afeksi - entah sesempurna apa jika diukur, aku tidak tahu.

Yg jelas, dirimu lebih dari cukup untukku.

Mendramatisir penderitaan

April 16th, 2008 by governance

Siapa sih orang Indonesia yg gak pernah ngerasain miskin dan susah? Mudah sekali tentu untuk tunjuk batang hidung orang per orang. Tidak banyak yg bebas dari kemiskinan dan kehimpitan dan bisa menikmati hidup sesuka-sukanya.

Saya salut dengan yg struggle. Saya kagum dengan yg bekerja keras. Saya senang mendengarkan orang cerita hidup yg penuh liku2 tapi tetap bertahan, dan satu lagi yg penting, ‘tetap tersenyum’.

Tidak banyak yg bisa.

Yang ada, menangis, tidak tahan, bersedu sedan, mencari2 simpati, minta dikasihani, dan kalau perlu mainin perasaan dikit, lalu jika bertemu dengan orang baik, dia akan jatuh cinta, dan mengasihani, memberikan yg diinginkan, melindungi. (dasar gue sirik!)

I am not judging somebody. I only try to contemplate what has been happening in my life for more than twenty years I’v spent.

Aku juga bukan orang yg berlimpah ruah, pas sekolah, pas kuliah, di rumah, pas kanak2, remaja, dan aku pun harus berjuang. Tapi, tidak terlalu asik menceritakan kesusahan, unless itu untuk mengambil ataupun membagikan pelajaran hidup. Simpel aja, bukannya sok strong, tapi toh hampir semua orang ngalamin. What’s the point? Gak ada bedanya aku dan kamu. Kamu susah, aku juga. Kenapa mesti sedih.

Hampir semua anak kampus, di jamanku dulu susah makan, kiriman telat, perlu pontang panting cari sampingan proyek seminar, penelitian, transkrip2 wawancara, tidur di kos yg murah, sempit. Coba aja lihat ke bawah, masih untung masuk di perguruan tinggi meski dengan tertatih2. Masih untung ada yg masih pensiunan, toh masih banyak yg orang tuanya gak berpenghasilan, sakit2an, tapi tetep berjuang dukung anak2 sekolah. Ahh, jengah rasanya denger orang yg menjual cerita kepedihan. Simpel aja, it’s not only you. So am I. and so are many other friends.

Hidup susah, yo, biasa wae. Memang begitulah kodratnya. Tapi ini bukan berarti pasrah. Yg jelas, gak pelru nangis untuk hidup yg harus diperjuangkan. Memang hidup itu isinya tertatih2, bahkan bagi mereka yg sekarang berlimpah uang. Semua susah. So, why should bother? Keep smile!

PS: terinspirasi seorang kawan yg sante banget nyeritain perjuangannya di ibukota. salut buatmu!

Sama juga

April 11th, 2008 by governance

"Gimana rasanya punya suami?", dan pertanyaan ini ditanyakan pula kepadaku oleh sbagian besar orang2 yg sudah menikah. Hmm, mungkin mereka memang pada penasaran, mungkin juga gak terlalu penting, just ngelempar pertanyaan tanpa tujuan yg jelas. Dan jawabanu selalu datar, "biasa aja", kadang, "enak dan mantab!" dengan harapan mereka puas mendengarnya. Pertanyaan lain pun segera menyusul, "suami diajak di Aussie nggak?", kujawab lagi, "nggak, kerjaan  gak bisa ditingal". Sambung lagi, "kerja dimana?", "di Yogya", "eh,dimana?", "peneliti", "perut sudah isi belum?", "sudah, isi kangkung sama sambal".

Well, what I really want to say is, marriage is common thing. Why should be bothered? Though this is not saying that marriage isn’t imporant. I know, it is about a big deal, a great decision,  avery new kind of life. But, most people do it.

The point is, tat I am happy with my partner. Enjoy the relationship (alhamdulillah), and I think it starts from a simple thing: be relax with all the new things. Includeing, be relax with with somebody else’s new relationship. That’s shit. Hehehe (blog-e wong sing sirahe lagi mumet kesiram uap kulkas pas perut lagi laper, badan lagi demam, kaki sakit karena capek dari city, tapi dateng2 udah kudu jawab sederet pertanyaan yg sepertinya substantf tapi gak penting).

Suamiku, ndang ngeflexi dung, aku selalu mencarimu, dan bukannya kamu juga selalu mencariku, hehehe..